Orang Tua Hanya Tahu Profesi Polisi Saja!
Pernah
nggak sih kalian mendengar orang tua yang menghibur anaknya dengan kalimat, “Makan
yang banyak agar besar nanti bisa jadi polisi.” Atau “Belajar yang pinter biar
jadi dokter.” Biasanya orang tua mengatakannya sembari nyuapin anaknya. Tidak
hanya satu kali, orang tua akan mengatakannya secara berulang-ulang. Lebih
seringnya, kalimat tersebut selalu keluar ketika ada tetangga yang datang.
Lantas
mengapa hanya dua profesi tersebut yang sering dipakai orang tua sebagai
profesi percontohan kepada anaknya? Jan kurang variatif. Zaman sekarang banyak
to profesi yang tidak kalah keren dibanding polisi dan dokter. Misalnya content
creator, gamer, editor, atau bisa juga petani milenial. Memang sih pekerjaan
tersebut tidak berseragam seperti yang diidamkan oleh setiap orang tua kepada
anaknya. Tapi kayaknya nih ya, masih banyak orang tua yang mengharapkan anaknya
memilih pekerjaan yang berseragam. Berseragam kalau attitude tenggelam buat
apa.
Apa
yang dikatakan orang tua akan dibawa anaknya ke sekolahan. Ketika sang guru
bertanya kepada siswanya satu per satu tentang cita-cita, maka polisi dan dokter
pasti akan banyak dipilih. Lebih-lebih ada beberapa siswa yang menjawab guru.
Tidak salah juga. Toh profesi tersebut sangat mulia. Tapi akan sangat
bervariatif jika para siswa memilih profesi yang anti mainstream. Kan seru tuh
jika ada siswa yang menjawab ingin menjadi arranger, presenter, Harry Maguire.
Eh, komedian maksudnya.
Sedikit
cerita. Dulu ketika saya TK, ada yang namanya pawai anak-anak. Jadi saya
bersama anak-anak TK lain sekecamatan, akan didandani dan berkeliling mengitari
satu kecamatan menggunakan mobil bak terbuka. Nah, kebetulan saya dengan
teman-teman laki-laki yang lain didandani menggunakan pakaian polisi. Tidak
hanya itu, muka saya dibedaki dan di atas mulut dilukis kumis. Bukannya sangar,
jadinya malah pucet. Jan koyok kucing ngantuk. Nihil semangat.
Samar-samar
bisa saya ingat, ibu saya mengatakan, “Ngene kan ngganteng. Gagah.” Waktu itu
saya pun hanya bisa diam. Tidak menggerutu apalagi protes. Mau protes
bagaimana, lha wong tidak terbiasa untuk protes. Jika ibu berkata ke kiri, ayo.
Kalau ibu menyuruh ke kanan, nurut.
Berangkatlah
saya bersama anak-anak TK lain mengelilingi kecataman. Banyak yang nonton.
Banyak juga yang berjualan makanan dan mainan. Dan anehnya rata-rata hampir
semua anak laki-laki didandani polisi. Jatuhnya bukan pawai anak-anak lagi,
melainkan reuni akpol.
Begini
lo, dari sekian banyak seragam kedinasan, mengapa kok memilih seragam polisi?
Apa karena mudah didapat atau penjahitnya hanya bisa membuat seragam polisi
saja? Jan mblegedhes.
Sekarang
masih ada pawai tersebut dan rutin dilakukan setiap Agustus. Tapi sudah
bervariasi pakaian anak-anaknya. Bahkan Agustus kemarin keponakan saya
menggunakan setelan jas rapi dengan selempang nama bertuliskan Menteri ESDM.
Kalau begitu kan bagus. Difoto juga keren. Enggak kayak saya. Sekarang kalau
saya melihat foto pawai itu, saya hanya bisa ngelus dada. Kok mau-maunya saya
didandani seperti itu.
Untuk
para orang tua, tolong riset sedikitlah. Kurangi menggunakan percontohan
profesi yang mainstream sebagai hiburan untuk anaknya. Biar lebih berwarna
gitu. Siapa tahu kelak saat si ibu mendengar anaknya menggambar, dia
mengatakan, “Wah, gambaranmu bagus. Kamu berbakat menjadi pelukis.” Kemudian
ketika sang anak menghilangkan tupperware, emaknya bilang, “Kamu adalah calon
pesulap yang hebat.”
Bukan tentang profesinya, tetapi tentang minatnya.
Dengan
berkembangnya aplikasi pada gadget yang mudah dipahami anak-anak, mereka akan
lebih menyerap apa yang mereka lihat. Anak-anak pun sekarang mulai banyak yang kepingin
jadi content creator. Mereka bisa menyebutkan cita-cita yang dahulu terasa
kurang awam. Jangan kaget juga jika anak-anak pada ngikutin trend yang tengah
hangat di Tik-Tok.
Terlepas
apa yang dikatakan orang tua kepada anaknya perihal profesi hiburan, toh
intinya tetap sama. Ingin melihat anaknya sukses terhadap pilihannya. Yang
terpenting si anak bisa berkembang sesuai minat di bidangnya. Nah, itu baru
mashok.

Posting Komentar untuk "Orang Tua Hanya Tahu Profesi Polisi Saja!"