Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Review Novel "Selamat Tinggal" by Tere Liye

 

Dokumentasi Pribadi

Sejak membaca pertama kali pada tahun 2020 lalu, saya telah menamatkan novel ini sebanyak tiga kali. Hal tersebut beralasan karena topik yang diangkat dalam novel ini sangat menarik atensi yakni tentang pembajakan buku. Belum lagi alur cerita yang aduhai membuat rasa penasaran terus bertumbuh setiap membaca halaman demi halamannya.

Novel Selamat Tinggal menceritakan tentang Sintong—seorang mahasiswa tua yang bekerja di toko buku bajakan milik Pakliknya. Setiap harinya dia melayani para pembeli dengan rupa dan tingkah sendiri-sendiri. Alasan mengapa orang-orang tersebut membeli buku bajakan karena harga yang sangat murah dibandingkan dengan buku originalnya.

Di tengah kesibukannya menjaga toko, Sintong juga harus memikirkan bagaimana kelanjutan skripsinya. Di kampus dia hanya tinggal sendiri. Teman satu angkatannya sudah lulus semua. Satu-satunya teman yang tersisa di kampus ialah penjaga kantin kampus. Tidak lebih.

Namun Sintong beruntung menemukan buku dummy dari seorang penulis yang disebut hilang dalam catatan sejarah literasi nasional—Sutan Pane. Satu dari pentalogi Sutan Pane. Buku tersebut yang menjadi kunci pertama bagi Sintong untuk menapaki jejak sang pemikir hebat. Dari sana juga Sintong kembali mengaktifkan tombol kepenulisannya yang telah cukup lama berhenti.

Setidaknya ada empat hal yang menarik perhatian saya dalam novel ini. Pertama, penggambaran cerita. Saya sangat suka peristiwa demi peristiwa yang digambarkan oleh Tere Liye. Saya seperti masuk ke dalam lingkaran cerita yang mendebarkan. Bahkan saya merasa kesal melihat Sintong yang tidak mengangkat telepon dari Jess. Dalam hati saya berkata, “Hei, itu cewek cantik banget kenapa dicuekin? Dasar mahasiswa tua.”

Tapi di lain sisi saya angkat topi dengan pilihan Sintong yang akhirnya memutuskan untuk tidak lagi menjaga toko buku bajakan. Walau hal tersebut membuat pertengkaran yang luar biasa hebat dengan keluarga Paklik.

Kedua, tentang isu pembajakan. Beberapa tahun terakhir, para peuulis mengutarakan keresahannya terhadap pembajakan buku yang kian marak. Para penulis sudah jengah menghadapi para pembajak yang kian mengular dari waktu ke waktu. Bahkan toko-toko buku bajakan bertebaran di marketplace. Hilang satu tumbuh seribu, begitulah istilahnya.

Para pembajak inilah yang menjadi hama yang sangat ganas bagi industri penerbitan. Jika dibiarkan terus-menerus perlahan akan membunuh penerbit. Perihal tentang pembajakan adalah sebuah kasus serius yang sulit ditangani. Dan sayangnya, pemerintah seolah bergerak pasif untuk mengatasi masalah ini.

Presentasi nyata seorang pembajak buku digambarkan dalam tokoh Bulik Ningrum dalam novel ini. seorang yang terlihat baik di depan orang tapi sebenarnya mempunyai sifat bengis di dalam hatinya. Dia sangat egois yang hanya mementingkan dirinya sendiri dan keluarganya.

Bukan hanya soal pembajakan buku, di novel ini juga menyinggung hal-hal pembajakan lain seperti situs live streaming terlarang, software bajakan, pakaian KW, hingga kehidupan yang palsu.

Ketiga, tentang Sutan Pane. Sebelum membaca novel Selamat Tinggal, saya tidak begitu mengenal siapa sebenarnya Sutan Pane ini. Sedikit sekali informasi tentangnya. Seingat saya, ketika membaca novel Merdeka Sejak Hati karya A. Fuadi, nama Sutan Pane juga disebut. Dia adalah ayah dari sastrawan Sanusi Pane, Armijn Pane, dan Lafran Pane.

Beruntung saya bisa membaca novel ini karena saya merasa dikenalkan lebih dalam mengenai Sutan Pane. Seorang yang mempunyai integritas yang kokoh, tanggung jawab tinggi, serta tidak tawar-menawar. Bahkan Sutan Pane tidak segan-segan melaporkan adiknya sendiri yang terbukti korupsi dengan mencuri uang koperasi. Soal kejujuran, dia tidak pandang bulu. Dia juga turut mengganti uang koperasi tersebut.

Keempat, salah satu bagian paling favorit saya, tentang cinta segitiga antara Mawar, Sintong, dan Jess. Porsi percintaan yang pas. Tidak kurang. Tidak lebih. Saya sangat menikmati bumbu asmara Sintong. Saya tidak bisa membayangkan jika menjadi Sintong dalam urusan ini. Bagaimana dia harus menentukan pilihan. Dua wanita dengan sifat dan kecantikannya masing-masing.

Saya benar-benar menikmati bumbu percintaan mereka. Terlepas dari molor perkuliahannya, kepribadian Sintong memang pantas diperebutkan oleh dua orang. Sangat jarang ada lelaki yang dikejar oleh perempuan hingga sang perempuan rela hujan-hujanan demi mendapatkan kejelasan.

Layaknya seorang laki-laki, Sintong harus segera menentukan. Walau akan menggores hati satu wanita. Dia harus siap dengan segala risiko. Ya, Sintong adalah Sintong. Dia tidak akan lupa dengan masa lalunya.

Terakhir, seperti kehidupan Mama Jess, hidup tidak seindah yang dilihat di sosial media. Kehidupan sosial media hanyalah berupa foto yang bisa mengartikan banyak hal. Jika ingin mengenal seseorang, kenali secara langsung. Pasti kita aka medapat perspektif yang berbeda kepada orang tersebut.

Salam literasi.

Posting Komentar untuk "Review Novel "Selamat Tinggal" by Tere Liye"